▴cover str kep ners▴ - Audit Mutu Internal Siklus-19 Prodi Sarjana Terapan Keperawatan Malang dan Profesi Ners
- Profesi Ners Poltekkes Malang Bahas Kesehatan Mental Pasien Diabetes dalam Kuliah Tamu Bersama Pakar
- Pengabdian kepada Masyarakat (Pelatihan Lanjutan Kelas BKR)
- Torehkan Prestasi di RTA ke-24 AIPNI, Program Studi Profesi Ners Raih Berbagai Penghargaan
- Kuliah Tamu Prodi Sarjana Terapan Keperawatan Malang tentang Manajemen Koma Diabetikum dan Ventilasi
- Poltekkes Kemenkes Kendari Kunjungi Laboratorium Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang
- Workshop Konten Media Digital, Bekali Mahasiswa & Tendik Poltekkes Malang dengan Skill Kreatif
- Mahasiswa Kelas International dan Isabela State University pada event 4th Midcassion 2026
- Sumpah Profesi Ners Poltekkes Kemenkes Malang: Teguhkan Komitmen Etik dan Profesionalisme Perawat
- Yudisium Akhir Program Studi Pendidikan Profesi Ners dan Sarjana Terapan Keperawatan TA 2025/2026
Sosialisasi Instrumen APRIS dan FGD Pengembangan Aplikasi Pantau Risiko Stunting di Kelurahan Bareng

Malang – Program Studi Sarjana Terapan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang terus mendorong pengembangan inovasi dalam upaya pencegahan stunting melalui kegiatan penelitian terapan. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sounding Instrumen APRIS dan Focused Group Discussion (FGD) terkait pengembangan Aplikasi Pantau Risiko Stunting (APRIS) yang dilaksanakan pada Rabu, 19 Agustus 2026, bertempat di Aula Pertemuan Kelurahan Bareng, Kota Malang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) yang diketuai oleh Dr. Tri Anjaswarni, S.Kp., M.Kep. Kegiatan bertujuan untuk memperoleh masukan, pandangan, serta rekomendasi dari berbagai pemangku kepentingan dalam rangka penyempurnaan instrumen APRIS agar dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pelaksana program di lapangan.
Kegiatan dihadiri oleh berbagai unsur terkait, antara lain Camat Klojen, Lurah Kelurahan Bareng, Kepala Puskesmas Bareng, Penanggung Jawab Posyandu, serta perwakilan DINSOS P3AP2KB (BKKBN) Kota Malang. Kehadiran lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan instrumen yang diharapkan dapat mendukung pemantauan dan deteksi risiko stunting secara lebih sistematis.
Dalam kegiatan Focused Group Discussion (FGD), peserta berdiskusi mengenai instrumen APRIS, khususnya terkait aspek yang perlu diperhatikan agar aplikasi dapat digunakan secara efektif dalam pemantauan risiko stunting. Masukan dari unsur pemerintah wilayah, fasilitas pelayanan kesehatan, kader, serta pemangku kepentingan terkait menjadi bahan penting bagi tim peneliti dalam melakukan penyempurnaan instrumen.
Melalui kegiatan sounding dan FGD ini, diharapkan pengembangan Aplikasi Pantau Risiko Stunting (APRIS) dapat menghasilkan instrumen yang relevan, mudah digunakan, serta mampu mendukung upaya deteksi dini dan pemantauan risiko stunting secara berkelanjutan di masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen Poltekkes Kemenkes Malang dalam mengembangkan penelitian terapan yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghasilkan inovasi yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendukung program pencegahan stunting di tingkat komunitas.






