▴cover str kep ners▴ - Pengabmas Wilayah Binaan Tahap 2 di Desa Klepu: Perkuat Kesehatan Remaja dan Kapasitas Kader
- Sosialisasi Instrumen APRIS dan FGD Pengembangan Aplikasi Pantau Risiko Stunting di Kelurahan Bareng
- Satukan Ikhtiar dan Doa, Mahasiswa Profesi Ners Bersiap Menghadapi UKOM
- Pemberdayaan Keluarga dalam Upaya Pencegahan Stunting & Deteksi Dini Diabetes Melitus di Desa Klepu
- OSCE Akhir Program Pendidikan Profesi Ners Poltekkes Kemenkes Malang Diikuti 124 Mahasiswa
- GELAS SEHAT: Dorong Lansia Kelurahan Losari Cegah Hipertensi dan Stroke
- Selamat dan Sukses! Mahasiswa Profesi Ners Diterima Program Magang Kemnaker di Berbagai Rumah Sakit
- Sosialisasi Program IGI Academy di Kelas Internasional Jurusan Keperawatan Polkesma
- Pelatihan Tahap I Bina Keluarga Remaja (BKR) Perkuat Peran Keluarga dalam Mewujudkan Generasi Sehat
- Mahasiswa Sarjana Terapan Laksanakan Pengabdian Masyarakat melalui Survey Cepat Komunitas
Sosialisasi Instrumen APRIS dan FGD Pengembangan Aplikasi Pantau Risiko Stunting di Kelurahan Bareng

Malang – Program Studi Sarjana Terapan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang terus mendorong pengembangan inovasi dalam upaya pencegahan stunting melalui kegiatan penelitian terapan. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sounding Instrumen APRIS dan Focused Group Discussion (FGD) terkait pengembangan Aplikasi Pantau Risiko Stunting (APRIS) yang dilaksanakan pada Rabu, 19 Agustus 2026, bertempat di Aula Pertemuan Kelurahan Bareng, Kota Malang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) yang diketuai oleh Dr. Tri Anjaswarni, S.Kp., M.Kep. Kegiatan bertujuan untuk memperoleh masukan, pandangan, serta rekomendasi dari berbagai pemangku kepentingan dalam rangka penyempurnaan instrumen APRIS agar dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pelaksana program di lapangan.
Kegiatan dihadiri oleh berbagai unsur terkait, antara lain Camat Klojen, Lurah Kelurahan Bareng, Kepala Puskesmas Bareng, Penanggung Jawab Posyandu, serta perwakilan DINSOS P3AP2KB (BKKBN) Kota Malang. Kehadiran lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan instrumen yang diharapkan dapat mendukung pemantauan dan deteksi risiko stunting secara lebih sistematis.
Dalam kegiatan Focused Group Discussion (FGD), peserta berdiskusi mengenai instrumen APRIS, khususnya terkait aspek yang perlu diperhatikan agar aplikasi dapat digunakan secara efektif dalam pemantauan risiko stunting. Masukan dari unsur pemerintah wilayah, fasilitas pelayanan kesehatan, kader, serta pemangku kepentingan terkait menjadi bahan penting bagi tim peneliti dalam melakukan penyempurnaan instrumen.
Melalui kegiatan sounding dan FGD ini, diharapkan pengembangan Aplikasi Pantau Risiko Stunting (APRIS) dapat menghasilkan instrumen yang relevan, mudah digunakan, serta mampu mendukung upaya deteksi dini dan pemantauan risiko stunting secara berkelanjutan di masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen Poltekkes Kemenkes Malang dalam mengembangkan penelitian terapan yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghasilkan inovasi yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendukung program pencegahan stunting di tingkat komunitas.





